Ringkasan Singkat
Podcast ini menghadirkan Cut Vivia Talita, seorang penulis dan teman SMA Bilal, untuk berbagi pengalaman hidupnya selama 10 tahun terakhir. Vivia membahas tentang pentingnya mengenali diri sendiri, menerima emosi, dan memaafkan diri sendiri. Dia juga berbicara tentang pengalamannya mengatasi trauma dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mental dan fisiknya. Selain itu, Vivia memberikan saran tentang cara menghadapi rasa insecure, membangun kepercayaan diri, dan menghadapi orang-orang yang tidak mendukung.
- Pentingnya mengenali diri sendiri dan menerima kelemahan.
- Trauma dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik.
- Cara menghadapi rasa insecure dan membangun kepercayaan diri.
- Pentingnya memaafkan diri sendiri dan orang lain.
Intro [0:00]
Podcast Suara Berkelas mengundang Cut Vivia Talita, teman sekelas Bilal semasa SMA. Bilal mengenang Vivia sebagai siswa berprestasi yang selalu mendapat peringkat atas, sementara dirinya selalu berada di peringkat bawah. Setelah 10 tahun tidak bertemu dan jarang berkomunikasi, Bilal ingin mengetahui perubahan dan pelajaran hidup yang bisa dibagikan oleh Vivia.
Kekuatan Sejati [2:51]
Vivia menyadari bahwa dirinya tidak sekuat yang dibayangkannya selama ini. Kekuatan sejati bukan tentang menyembunyikan emosi dan selalu terlihat tegar, tetapi tentang menerima emosi seperti kesedihan dan tetap bergerak maju. Dia baru menyadari hal ini setelah mengalami banyak hal di tahun 2025 dan berkonsultasi dengan psikolog. Vivia menekankan bahwa tidak apa-apa untuk merasa sedih dan tidak selalu kuat, karena itu adalah bagian dari menjadi manusia biasa.
Logika vs Perasaan [5:16]
Vivia menjelaskan bahwa manusia memiliki dua tipe dominasi dalam mengambil keputusan: rasional (logika) dan irasional (perasaan). Orang rasional sering dicari untuk solusi logis, sementara orang irasional dicari untuk validasi emosional. Cara mudah untuk mengetahui tipe dominasi seseorang adalah dengan melihat alasan mengapa orang lain sering datang kepada kita. Orang yang logis cenderung menekan perasaannya dan bisa meledak di kemudian hari ketika menghadapi trauma.
Trauma dan Pengaruhnya [8:09]
Vivia baru menyadari bahwa dirinya memiliki kompleks PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) di tahun 2025. Selama ini, dia menganggap kebiasaan buruknya sebagai hal yang normal, padahal itu adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) dari trauma. Trauma bukanlah sekadar pola pikir, tetapi luka yang tidak terlihat yang memengaruhi cara kerja otak. Informasi yang menyakitkan akan tertahan di amigdala (otak emosi) dan membuat otak emosi lebih aktif, yang bisa menyebabkan masalah fisik dan emosional.
Pentingnya Tidak Menghakimi [16:16]
Vivia menekankan pentingnya untuk tidak menghakimi orang lain karena kita tidak pernah tahu apa yang mereka hadapi. Dia juga menyadari bahwa tidak ada orang yang 100% baik atau jahat. Meskipun pernah disakiti, Vivia tidak bisa membenci orang lain dan merasa bahwa itu adalah hal yang baik. Dia percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Pesan untuk Orang yang Menyakiti [20:39]
Vivia berharap orang-orang yang pernah menyakitinya bisa menentukan arah yang positif dan terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Dia menyadari bahwa tidak semua orang harus berjalan bersama kita selamanya. Seseorang hadir dalam hidup kita bisa jadi hanya sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk memberikan pelajaran. Ketika masanya selesai, orang itu akan pergi dan itu tidak apa-apa.
Mengenali Diri Sendiri [22:47]
Vivia menjelaskan bahwa ada dua cara untuk meningkatkan kepercayaan diri: mengenali diri sendiri sedalam-dalamnya dan memiliki pemahaman bahwa kita tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain. Dia menggunakan teori Carl Jung tentang MBTI cognitive function untuk memetakan dominasi di otak dan melihat potensi diri. Setiap orang memiliki urutan proses mental yang berbeda, yang memengaruhi cara mereka memandang sesuatu.
Jangan Merasa Lebih Rendah [29:11]
Vivia menceritakan pengalamannya saat kuliah di SBM ITB dengan beasiswa bidik misi. Dia menyadari bahwa orang-orang yang berprivilese pun memiliki tantangan tersendiri untuk membanggakan keluarganya. Vivia menekankan pentingnya untuk tidak merasa lebih rendah karena orang-orang yang memiliki privilege pun memiliki tantangan yang berbeda.
Kebahagiaan dan Rasa Syukur [32:30]
Vivia menekankan pentingnya untuk tetap bersyukur dan rendah hati, sebanyak apa pun uang yang kita miliki. Dia menceritakan pengalamannya saat kuliah ketika dia kehabisan uang dan mendapatkan donat dari temannya. Pengalaman itu membuatnya sangat bersyukur dan menginspirasinya untuk membuat donat sendiri.
Menghadapi Trauma [36:15]
Vivia merasa jauh lebih baik setelah menjalani terapi EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) untuk mengatasi traumanya. Terapi ini membantunya memproses emosi yang tertahan dan mengubah banyak hal dalam hidupnya, termasuk menghilangkan penyakit psikosomatis seperti infeksi saluran kemih dan sariawan yang sudah dideritanya selama 13 tahun.
Pengalaman dengan Ayah [43:02]
Vivia menceritakan tentang ayahnya yang meninggal karena kanker paru-paru. Dia baru mengetahui bahwa ayahnya merokok sejak usia 8 tahun dan memiliki banyak trauma di masa lalu. Vivia bersyukur karena di tahun-tahun terakhir hidup ayahnya, mereka bisa lebih terbuka dan dekat satu sama lain. Dia juga menyadari bahwa masalah mental dan pola hidup yang kurang baik bisa menjadi pemicu penyakit seperti kanker.
Pentingnya Kesadaran [49:46]
Bilal menambahkan bahwa momen-momen terakhir dengan orang terdekat bisa membuat kita merasa lebih dekat. Dia menekankan pentingnya untuk tidak menghakimi orang lain yang merokok karena kita tidak tahu apa yang mereka hadapi. Vivia setuju dan mengatakan bahwa penting untuk menyadari bahwa rokok itu berbahaya agar kita tidak ingin anak kita merokok.
Penyesalan dan Memaafkan Diri Sendiri [52:15]
Vivia menyesal karena dulu terlalu denial dengan perasaannya. Dia berharap bisa lebih memperhatikan orang-orang di sekitarnya, terutama ayahnya. Vivia menyadari bahwa dirinya perlu memaafkan dirinya sendiri karena selama ini terlalu denial dan meninggalkan dirinya sendiri. Dia juga menekankan bahwa privilege bukan hanya soal uang dan relasi, tetapi juga kecerdasan emosional.
Saran untuk Nailul [57:54]
Menanggapi pertanyaan dari Nailul, Vivia menyarankan untuk menentukan masalah utama terlebih dahulu (finansial atau dukungan orang tua) dan mencari solusi yang sesuai. Jika masalahnya finansial, carilah beasiswa yang cocok. Jika masalahnya dukungan orang tua, cari tahu alasan mengapa mereka tidak mendukung dan coba yakinkan mereka.
Saran untuk Dwi Utari [1:02:33]
Menanggapi pertanyaan dari Dwi Utari, Vivia menekankan bahwa kunci untuk survive dan terlihat independen bukanlah dengan berusaha terlihat sempurna, tetapi dengan menurunkan ego serendah-rendahnya dan mengakui kelemahan diri sendiri. Dia juga mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita untuk memikirkan hasil, tetapi untuk berusaha.
Saran untuk Mayira HF [1:08:38]
Menanggapi pertanyaan dari Mayira HF, Vivia menyarankan untuk tidak fokus pada orang-orang yang tidak suka dengan kita, tetapi fokus pada mengenali diri sendiri dan mencari orang-orang yang bisa mengapresiasi kita. Dia menceritakan pengalamannya saat lomba public speaking dan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan diri untuk menggunakan cara orang lain.
Nasihat Terburuk [1:16:44]
Vivia mengatakan bahwa nasihat terburuk yang pernah diterimanya adalah "jangan kuliah jauh-jauh, di mana aja sama". Dia tidak setuju dengan nasihat itu karena menurutnya kuliah di luar kota bisa memberikan pengalaman merantau dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda cara berpikir. Namun, dia juga menyadari bahwa nasihat buruk sering kali diberikan dengan niat baik, sesuai dengan kapasitas dan pengalaman orang yang memberikannya.